Hukum Islam Dalam Memandang Pertandingan Olahraga

Alomuslim.com – Islam sangat menganjurkan olahraga ketangkasan berperang seperti berkuda dan memanah dalam rangka mempersiapkan diri menggetarkan musuh-musuh Islam. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ ٦٠

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu.”(QS. Al Anfaal : 60)

Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ :

“Seorang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah.”(HR. Muslim)

Tujuan dari seluruh olahraga yang telah diketahui pada masa awal kelahiran Islam adalah untuk memelihara hak, mempertahankannya dan membelanya. Tujuannya bukan sama sekali untuk mendapatkan harta dan mengumpulkannya, bukan pula untuk popularitas dan kecintaan akan ketenaran, dan juga bukan untuk kemegahan dimuka bumi serta kerusakana di dalamnya yang menyertainya, sebagaimana yang terjadi pada masa sekarang ini.

Sesungguhnya tujuan dari semua jenis olahraga tersebut adalah untuk menguatkan tubuh dan meningkatkan kemampuan untuk melakukan perjuangan di jalan Allah. Berdasarkan hal itu, olahraga dalam Islam harus dipahami dalam pengertian tersebut. Jika ada orang yang memahami olahraga selain dari pengertian tersebut, maka ia telah mengeluarkan olahraga dari tujuannya yang baik kepada tujuan yang buruk, yaitu permainan yang bathil dan perjudian yang dilarang.

Hukum olahraga

Pertandingan olahraga tidak dapat digeneralisir hukumnya haram atau boleh. Akan tetapi harus ditinjau terlebih dahulu berdasarkan materinya. Karena dalam Islam ada beberapa jenis olahraga yang sangat dianjurkan seperti memanah, menembak, bela diri, berenang, pacuan kuda, pacu jalur dan terjun payung serta beberapa jenis olahraga keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung kemampuan seorang muslim apabila berjihad.

Ada beberapa jenis olahraga yang diharamkan dalam Islam, seperti tinju, matador, pertarungan bebas dan beberapa olahraga lainnya yang berakibat pada menyakiti lawannya baik manusia ataupun binatang. Sementara untuk jenis olahraga yang tidak termasuk kedalam kategori olahraga ketangkasan, yang juga tidak menyakiti lawannya seperti sepak bola, futsal, bola basket, bola volli dan lainnya yang berguna untuk menjaga kebugaran seseorang. Untuk jenis olahraga yang terakhir ini, ulama berbeda pendapat tentang hukumnya.

Pendapat pertama, sebagian ulama kontemporer mengharamkan juga olahraga jenis ini, dengan alasan olahraga jenis ini seringkali diikuti dengan hal-hal yang haram, sering terjadi pertengkaran antar pemain terkadang berakhir dengan permusuhan dan bahkan keributan antara sesama para pendukung mereka, dan juga sering melalaikan dari zikir dan shalat. Maka hukum olahraga seperti ini termasuk maysir(perjudian).

Pendapat kedua, pendapat ini diantaranya disampaikan oleh para ulama yang tergabung dalam Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, membolehkan olahraga tersebut bila tidak sampai terdapat hal-hal yang diharamkan seperti yang disebutkan pada pendapat pertama. Sebagaimana fatwa No. 3323, yang berbunyi :

“Permainan yang bukan merupakan ketangkasan berjihad seperti sepakbola,… tidak boleh dilakukan jika pemenangnya mendapatkan hadiah. Dan jika pemenangnya tidak mendapatkan hadiah dari pihak manapun, juga tidak melalaikan dari melaksanakan kewajiban, tidak menimbulkan hal yang haram, tidak membahayakan para pemain, maka hukumnya boleh. Tetapi, bila persyaratan ini tidak terpenuhi maka hukumnya haram.”

Dalam hal ini, pendapat kedua lebih kuat dari pendapat yang pertama, karena haramnya olahraga jenis tersebut bukan karena dalam sisi permainannya, tetapi karena terdapat pelanggaran norma-norma syariat yang ikut menyertakan permainan tersebut yang sebenarnya dapat dihindari. Dengan demikian maka hukumnya dikembalikan ke asalnya yaitu mubah(boleh). Karena dengan melakukan olahraga tersebut dapat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, maka bila diniatkan untuk beribadah kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, tentu hukumnya juga akan bernilai ibadah. Wallahu ‘alam bishawab.

Referensi :

  • Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)
  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Tags: